Blora, BLORANEWS – Berkat kegigihan dalam pencegahan dan penanggulangan stunting, Pemkab Blora menerima berbagai penghargaan. Tepatnya sejak tiga tahun terakhir.
Selain itu, Blora jadi rujukan 11 Kabupaten Kota. Mulai Rembang, Pati, Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara, dan Solo raya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blora Edy Widayat mengaku, Kabupaten Blora memiliki banyak inovasi soal stunting. Sehingga penghargaan itu memang layak diberikan kota barongan ini.
“Ini memang berkat kerja keras semua pihak. Sesarengan. Bareng-bareng,” jelasnya.
Edy merinci, tahun 2019, Blora menjadi kabupaten terbaik dalam Kategori Inovatif, Inspiratif dan Replikatif dalam Penilaian Kinerja Aksi Konvergensi di tingkat Jawa Tengah.
Tahun berikutnya, yaitu 2020, Blora menjadi kabupaten paling Replikatif dan Paling Inovatif dalam Penilaian Kinerja Praktek Baik antar Kab/Kota di Jawa Tengah. Menjadi kabupaten terbaik 1 dalam Pelaksanaan Aksi Konvergensi Penurunan Stunting Terintegrasi Tk. Jawa Tengah.
Tak berhenti disitu, Blora menjadi Kabupaten Terbaik ke 2 dalam Pelaksanaan Aksi Konvergensi Penurunan Stunting Terintegrasi. Stand Pameran Terbaik dalam Pelaksanaan Aksi Konvergensi Penurunan Stunting Terintegrasi serta menjadi Kabupaten Inovatif Tingkat Nasional dalam Pelaksanaan Aksi Konvergensi Penurunan Stunting Terintegrasi.
Diketahui bersama, berbagai inovasi dilakukan untuk menurunkan angka stunting di Kabupaten Blora. Hasilnya luar biasa. Angka prevalensi stunting tinggal 7,87 persen (3.704 balita). Data ini sesuai pelaporan rutin berbasis Aplikasi Online Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) tahun 2022.
Sementara itu, Bupati Arief Rohman menyatakan, Kabupaten Blora merupakan salah satu kabupaten lokus stunting di Jawa Tengah. Pada tahun 2022 di Blora terdapat 34 desa/kel yang ditetapkan menjadi prioritas/lokus stunting.
“Untuk menuju Blora New Zero Stunting, Pemkab Blora juga memiliki berbagai program inovasi-inovasi. Termasuk sinergi dengan program dari dinas-dinas yang ada,” terangnya belum lama ini.
Untuk itu, Bupati Blora Arief Rohman, mengajak Poltekkes Kemenkes RI Semarang untuk turut serta membantu Pemerintah Kabupaten Blora dalam mengurai berbagai permasalahan yang ada di Blora. Mulai kemiskinan, stunting, dan sebagainya.
“Kita tidak bisa menyelesaikan sendiri, oleh karena itu, Pemkab Blora mengajak kepada semua stakeholder khususnya perguruan tinggi yang salah satunya Poltekkes Kemenkes Semarang untuk membantu kami. Dimana dengan mengedepankan Tridarma Perguruan Tinggi diharapkan dapat bekerjasama dengan Pemkab Blora untuk mengurangi permasalahan yang ada,” harap Bupati Arief Rohman dihadapan Direktur Jenderal Tenaga Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Arianti Anaya, Kepala Dinas Kesehatan Prov. Jateng, Yunita Dyah Suminar, Direktur Poltekkes Kemenkes Semarang, Marsum, dan Kepala Dinas Kesehatan Blora, Edi Wdayat. (sub)