OPINI  

SAMIN DALAM KACAMATA DR. CIPTO MANGUNKUSUMO

Ilustrasi : Samin surosentiko

BLORANEWS – Samin alias Soerosentiko hanya sedikit lebih berbeda dari ukuran rata-rata warga desa. Keadaan ini tentunya hanya dapat dijelaskan dengan mencari informasi yang lebih rinci, sehingga bisa dijadikan petunjuk tentang keberhasilannya di kemudian hari.

Secara umum, banyak keterangan menyatakan bahwa dia buta huruf. Informasi ini mudah untuk dipercaya, karena faktanya untuk penduduk pribumi pendidikan diperoleh sangat tidak memadai di seluruh penjuru Jawa bahkan Nusantara.

Banyak informasi yang tidak menemui kata sepakat, juga tentang tempat kelahirannya. Asisten Wedono Sambong mengklaim bahwa Samin kelahiran Kedung Tuban. Sementara dari Senori mengatakan Samin lahir di Ploso Kediren Kawedanan Randublatung. Tetapi dimanapun itu, dia pasti seorang petani gogol yang memiliki bagiannya atas tanah komunal. Dia pasti tidak pergi ke sekolah atau menerima ajaran Islam (ngadji).

Dari ajaran yang kemudian dicetuskannya, jelas bahwa Samin tidak memiliki doktrin-doktrin Arab. Atau mungkin sangat sedikit, sehingga nampak logis bahwa faham Islam Jawa dalam dirinya bisa dianggap sebagai musuh dari keyakinan mayoritas. Ajarannya karena itu disebutnya sebagai “agama Adam”.

Bentuk awal mula perlawanannya terhadap aparatur desa dapat diketahui melalui keterangan asisten wedono Sambong, dari istri pertama Samin, dengan siapa dia hidup tak bahagia dan kemudian ingin bercerai, sebelum pernikahan kali kedua. Dan bahwa perceraian ini dilakukan oleh panghulu di luar kehendak Samin. Panghulu harus menggunakan trik untuk proses perceraian itu. Samin tidak ingin bercerai dari istrinya, hal itu dapat dimengerti bahwa Samin memegang konsepsi kesetiaan perkawinan dan merasa tidak kurang sebagai seorang suami. Menurut agama Islam, tidak ada alasan untuk dilakukan perceraian, kecuali dalam kasus-kasus tertentu, atau ketika sang suami melakukan pelanggaran terhadap perintah-perintah agama. Maka Panghulu mengambil cara dengan alasan bahwa seorang wanita muslim tidak boleh menikah dengan orang murtad. Akibatnya, Samin merasa terperdaya oleh panghulu.

Dia menarik diri dari desa kemudian masuk dalam hutan Bapangan, Kradenan, untuk mencari kehidupan. Menurut istri pertamanya, Samin telah meninggalkannya. Bahkan sebelum perceraian diucapkan, ia melarikan diri dari rumah dan membangun gubug di hutan, di mana dia menghabiskan sisa hidupnya disana.

Wanita yang telah diceraikan ini bernama Mbok Sosrosentono. Keterangan lebih lanjut, Samin seorang pria yang lembut, tidak pernah marah, tidak pernah memukul siapa pun. Namun sebaliknya, dia memberikan segalanya jauh dari cukup untuk keluarga, lebih mementingkan apa yang diinginkan oleh orang lain dan apa yang tidak langsung dibutuhkan untuk mata pencahariannya.

Sesuatu yang ‘nyentrik’ ini rupanya tidak cocok dengan istri pertamanya. Yang mengira bahwa Samin ‘normal’ dalam segala hal, memiliki rumah, merawat sapi, memperlakukan istri sebagaimana seorang petani.

Dari keterangan yang didadapi oleh asisten wedono Senori, silsilah keluarga Samin adalah sebagai berikut:

Ayah Samin adalah Trunonggolo dari desa Kedung Kenongo (mungkin seorang tani biasa). Kakeknya adalah Tigolo dari Jipang, Panolan, Cepu, juga seorang warga desa biasa. Buyutnya adalah Kyai Keti dari Rajegwesi, Bojonegoro.

Disini orang mulai merasakan bahwa Samin ingin merebut garis keturunan yang tinggi, seperti gelar Kyai, yang dikenakan oleh orang-orang yang berada setingkat di atas, atau sebagai pembeda diri mereka dari lingkungannya.

Selanjutnya Samin mengaku sebagai cicit Pangeran Kusumaning Ayu dari Rajegwesi.

Sesuai banyak keterangan yang lain bahwa pada titik ini, Samin mulai menceritakan kisah yang membingungkan. Kusumaning Ayu secara harfiah berarti ‘cantiknya bunga’, dan tidak lazim tergabung menjadi nama laki-laki, atau bukan sebagai nama yang tepat. Dari klaim Samin yang memakai nama itu untuk kakek buyutnya, maka dapat disimpulkan bahwa keterangan itu mengada-ada sebagaimana orang yang buta huruf.

Namun satu hal yang telah dicapai Samin, dengan menangkap garis keturunan bangsawan yang tinggi dan memenangkannya dengan popularitas dan kewibawaan yang sederhana, telah secara pasti memberikan kontribusi yang tidak sedikit sampai sukses sebagai seorang Guru nantinya.

Tentang penulis: Totok Supriyanto merupakan pemerhati sejarah dan budaya yang kini berkecimpung di Dewan Kebudayaan Blora (DKB).

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com