Blora- Memperingati Satu Abad Perjuangan Samin Surosentiko, Sedulur Sikep gelar Webinar Kebudayaan kemarin, Selasa (15/3). Webinar tersebut digelar untuk mengenang perlawanan Samin terhadap Kolonialisme Belanda, dan untuk memeras ajaran Samin di era kekinian.
Dalam webinar bertajuk Penguatan Sejaran Samin Surosentiko Sebagai Cagar Budaya itu, salah satu pembicara bernama Dandhy Dwi Laksono memaparkan bahwa Samin adalah simbol perlawanan tanpa kekerasan.
“Gerakannya non-violence (Red: anti kekerasan). Dan itu adalah bagian value humanity (Red: nilai kemanusiaan) yang diperjuangkan. Ketika pejuang di Negara lain melawan kolonialisme secara anarkis, maka Samin mengekspresikan perlawanannya dengan cara membangkang,” ucap Dhandy secara virtual.
Kreator Film Dokumenter Samin vs Semen itu juga menjelaskan, gerakan membangkang yang dilakukan Samin terhadap kolonialisme merupakan ekspresi filosofis terhadap penindasan.
“Non-violencenya itu pasifis. Bukan karena tidak mampu menang secara fisik, namun gerakan tanpa kekerasan itu bagian dari ekspresi filosofis terhadap perlawanan,” jelasnya.
Selain itu, Dandhy juga mengulas aksi demo yang dilakukan Sedulur Sikep saat menentang pembangunan pabrik semen di kawasan pegunungan kendeng. Yang menurut banyak orang tidak sesuai dengan ajaran Saminisme.
“Menurut saya, unjuk rasa yang dilakukan Sedulur Sikep di Pati saat menolak pabrik semen masih sejalan dengan laku Samin. Karena dalam demokrasi, unjuk rasa adalah perlawanan tanpa kekerasan, seperti halnya ajaran Saminisme,” tegas Dhandy. (Kin).