PRODUSEN TAS RUMAHAN DENGAN OMZET JUTAAN

Jayadi menunjukkan tas produksinya Foto : Bloranews
Jayadi menunjukkan tas produksinya Foto : Bloranews

Japah – Bermodal pengalaman kerja di Semarang, Jayadi memutuskan untuk membuat usaha tasnya. Usahanya kini telah beromzet mencapai Rp 6 juta per bulan. Usaha yang baru dirintis 6 bulan yang lalu ini, diproduksi di rumahnya di Desa Krocok RT. 04 RW. 02 Japah, Blora.

Pengalaman 7 tahun bekerja dipabrik tas, membuat Jayadi percaya diri memproduksi tas dirumahnya. Awalnya, dengan bermodal Rp 5 juta pinjaman dari koperasi, ia gunakan untuk membeli mesin jahit second, kain dan peralatan jahit lainnya. Jayadi membuat beberapa tas.

“Dari modal 5 juta dari koperasi, saya belikan mesin jahit second, kain dan perlengkapannya” Kata Jayadi pada Bloranews.com.

Karena produksinya tas anak sekolah, harga jual yang dia tetapkan sesuai dengan pasar, yakni sekitar Rp 50.000 per unit untuk tas punggung. bahkan lebih murah dari harga yang ada dipasaran.

“Dari situ, respons cukup baik. Jadi memperbanyak produksinya. Harga tas beragam, mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 50.000 per unit.” Jelasnya.

Penjualan dari hari ke hari terus mengalami peningkatan. Dari situ, Jayadi terus mengembangkan model tas dan kualitas yang lebih bagus. Dengan dibantu istri dan anak-anaknya, ia memproduksi berbagi model tas. Berbagai macam tas dia produksi seperti tas punggung, tas selempang, dompet, tas pensil dan lainnya. Bahan baku tas, ia dapatkan dari Kudus. Selain itu, ia juga menerima pesanan dalam jumlah banyak.

“Ini dapat pesanan tas dompet cukup banyak dari toko emas di Ngawen” tambah bapak 3 anak ini.

Jayadi mencontohkan, dalam produksi satu tas punggung ia hanya mengeluarkan biaya kurang lebih Rp 35.000. Dalam sehari, ia mampu memproduksi 50 unit tas dengan berbagai model.  

Pemasaran barang, dia mulai pada lingkungan terdekat hingga ke Japah, Ngawen, Kunduran dan beberapa tempat lainnya.

Saat ini, tas yang diproduksi Jayadi belum memiliki merek resmi buatannya. Kedepan, ia berencana memberikan merek pada tas buatannya. Selain itu, Ia berkeinginan untuk mengembangkan usahanya itu dengan menambahkan mesin jahit, tetapi masih terbatas modal.

“Kalau ada modal, bisa beli mesin jahit baru, tapi belum bisa” harap Jayadi.

Pihaknya juga juga berencana akan menambah tenaga kerja dalam usahanya dari warga setempat. Sehingga produksi tas bisa lebih banyak untuk memenuhi target penjualan.

Reporter : Ngatono