OPINI  

MEMBACA DISERTASI ZINA

Ilustrasi
Ilustrasi

Jihadis Kelamin?

Mata saya tertumbuk pada tulisan pendek dari seorang ‘ikhwan’ kenalan saya, bernama Sufyan Tsauri, eks kombatan yang sudah malang melintang di belantara jihadis. Setelah menghirup udara kebebasannya, kini dia menekuni dunia menulis dan penerbitan buku-buku untuk melawan paham jihadis takfiri. Gus Sufyan–begitu saya biasa menyapanya—dulu sebelum jadi polisi dan lalu hijrah ke jihadis adalah seorang santri yang pernah mondok di Lirboyo, Ploso dan Tebuireng.  Dia ‘tunggal guru’ dengan saya hanya tidak bebarengan waktu nyantrinya.  Dalam catatannya tersebut, Gus Sufyan seakan mengingatkan kita untuk tidak perlu heran terkait heboh ‘milkul yamin’.Ya, karena amaliyat yang begini ini sudah dilakukan oleh para takfiri sedari lama. Mereka selama ini menganggap wanita-wanita musuhnya atau di luar kelompoknya sebagai sabaya dan itu halal hukumnya, bahkan berasyik-masyuk dengan perempuan di Eropa dan Amerika juga halal hukumnya.

Gus Sufyan tidak abal-abal dalam beragumentasi. Dia mengutip kitab “Jawabussual jihad” yang ditulis oleh Syeikh Athiyullah. Mereka para takfiri ini sebagaimana disebutkan dalam kitab tersebut sebagian melakukan zina secara terang-terangan di Eropa dan di belahan bumi lainnya dengan alasan klaim-klaim batil lantaran anggapan bahwa perempuan-perempuan yang mereka pakai ‘kuda-kudaan’ itu statusnya perempuan hamba sahaya. Dengan menyitir Dr Muzhir al-Waisy dalam kitab Alamatul Fariqoh Fi Kasyfi Din al-Mariqah, Gus Sufyan mengungkapkan bahwa pengambilan dalil takfiri Wahabi itu memang mirip kelompok Murjiah yang suka mempermudah (tasahul) dalam urusan hawa nafsu. Gus Sufyan sendiri sudah mengulasnya dalam bukunya “Wanita Dalam Lingkaran Takfiri” yang membongkar fakta betapa ketika kaum takfiri ini menyerbu Najd dan Hijaz juga melakukan ‘perzinahan halal’ tersebut.

Tulisan Gus Sufyan ini yang paling ‘sexy’ bagi saya adalah soal fakta-fakta ‘penghalalan zina’ produk ‘istidlal’ kaum takfiri bahwa perempuan yang dizinahi itu sebagai budak. Kalau soal ‘tahdzir’ -nya bahwa itu merupakan perbuatan batil, ya jelaslah saya mengamini. Bisa-bisa ‘pecah ndasku’ kalau saya menyangkal  itu. Cukuplah bagi sayabersikap tawaqquf alias mingkem saja

Lalu bagaimana dengan Abdul Azis? Saya berbaik sangka, Abdul Aziz ini orang yang ‘lurus-lurus’ saja. Dia jalani karier sebagai dosen dan menapaki pendidikan dari S1, S2 dan S3. Di dunia akademis berlaku hukum publish or perish. Seorang dosen harus mau berkarya, kalau tidak akan sirna. Saya yakin, Abdul Aziz ini tidak pernah blusukan ke dunia remang yang pernuh rona. Tapi, bukan berarti dia tidak bertatap muka dengan realitas. Untuk memilih tema disertasi tentu tidak boleh serampangan, harus menyingkap latar belakang yang memacu untuk menuliskan tema yang dipilih dan lalu ada ‘batasan masalah’ supaya tidak nglantur. Nah disini, dia melihat seringnya terjadi kriminalisasi terhadap hubungan seksual non marital. Ini yang membuatnya gelisah. Dia tidak merumuskan pikirannya sendiri atau malah hendak berijtihad. Tentu itu jauh panggang dari api. Dia hanya pinjam pikiran Sahrur tentang tafsiran ‘milkul yamin’.

Di sisi lain, disertasi Abdul Aziz ini menyodok kembali untuk bongkar-bongkar  perjalanan seksualitas.  Sejarah seksualitas telah mengabarkan berita seks yang kusut masai, gelap dan juga tak satu warna. Disitu ada kenikmatan, keliaran, kebrutalan, penafsiran dan juga kepedihan. Saya jadi teringat pepatah Arab klasik yang mengatakan al-istimta’ fi muqobalat al-nafaqoh (ada kesenangan ada uang atau al-nafaqot fi muqobalat al-istimta’ (ada uang ada kesenangan). Pepatah yang meluapkan ‘zetgeist’ masa lalu. Itulah peradaban yang juga melahirkan ‘jihadis kelamin’  yang pernah jaya dan dipuja puji sakral tanpa cela.

Dan kini, lewat ISIS sejarah kelam itu menayang kembali. Kebrutalan yang membawa serta panji ‘jihad sex’ telah banyak mengorbankan anak manusia terlebih terhadap kaum perempuan.Paham ultrateror ini melintas tanpa batas. Dan di negeri kita ini,para Isiser dan juga jihadis lainnya tengah menyemai diri.

Ini sebuah pertempuran, dialektika wacana dan perebutan kuasa yang tak pernah berhenti. Wacana agama tampak  tengah menghadapi gempuran hebat dari para pengikutnya sendiri. Satu belahan, mereka yang ingin mengembalikan ajaran agama pada yang ‘asli’, secara puritan dan bahkan ekstrem. Belahan lain, mereka yang resah atas kejumudan pemikiran keislaman oleh karena konservativisme dan literalisme yang makin menguat. Trend ‘conservative turn’  terus menggeliat dan kian menampakkan kekuatannya.

Lahirnya peradaban moderen yang menggelorakan semangat sapare aude, berani berpikir dan bertindak sendiri telah melahirkan idiologi ‘sadar tubuh’. Sebuah era yang sebelumnya sejak Plato hingga dalam paham agama-agama, tubuh telah  dirasiskan sebagi ‘penjara bagi jiwa’. Seiring zaman, tubuh tidak lagi dicela, tetapi lebih tegas—seperti dalam fenomenologi Marleau Ponty—tubuh menjadi subyek kesadaran manusia atas dunia kehidupannya. Dan kini, tubuh-tubuh berarak-arakan melalui karnaval ekspresi tubuh publik. Eksistensi manusia sebagai makhluk seksual menyadarkan bahwa seksualitas tidak mudah direpresi, ia akan bangkit terus menerus untuk mencari ruang-ruang yang hidup selekat keberadaan manusia.

Tak ayal, dunia seks adalah sektor riil yang terus menggelinjang dan memacak diri. Petuah agama dan moral seolah ibarat seekor elang di ketinggian pohon yang tengah menatap tajam mangsa, namun tak berdaya, karena mangsa itu bergerak lebih gesit dan cekatan.

Tentang penulis: Soffa Ihsan hanyalah seorang Marbot di Lembaga Daulat Bangsa (LDB) dan Rumah Daulat Buku (Rudalku), Komunitas Literasi Eksnapiter

 

*Opini di atas adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi Bloranews.com