OPINI  

KOPI KOTHOK MINUMAN FAVORIT, DIDAERAH YANG TIDAK PUNYA HASIL KOPI

KOPI KOTHOK
foto : ngatono

“Sssrrruuuppppphhh…..aaaaahhhhh”, Kira-kira seperti inilah suara yang akan terdengar ketika menyeruput secangkir kopi kothok hangat. Yang disuguhkan di salah satu warung pada sudut Desa Temurejo RT 02 RW 04 Kecamatan Blora.

Dengan ditemani musik tradisional khas Blora dari kesenian Tayub, untuk melepas lelah dengan minuman ini tampaknya menjadi kegiatan yang menarik untuk bersantai. Ditambah sambutan panorama alam persawahan yang menghijau dengan tanaman padi.

 

KOPI KOTHOK
Bahan utamanya biji kopi pilihan terbaik foto : ngatono

 

Salah satu yang menjajakan kopi itu adalah Yatno, pria berusia 50 tahun ini menekuni warung kopinya sejak tahun 1998.

Kopi kothok sendiri, sebutan kopi yang terkenal diseluruh penjuru Kabupaten Blora. Walaupun bukanlah daerah penghasil tanaman kopi, namun Kopi merupakan minuman favorit yang sering dikonsumsi masyarakat Blora.

Untuk membuatnya, di warung sederhara di sudut perempatan jalan milik Yatno itu. Bahan utamanya biji kopi pilihan terbaik, diolah di penggorengan wajan yang terbuat dari tanah, tanpa campuran apapun. “Ini kopi murni tanpa campuran,” ujarnya, Sabtu (01/04/2017).

Kemudian, setelah tampak matang yang terlihat berwarna hitam diatas tungku berbahan bakar kayu itu, tapi tidak sampai gosong. Untuk mendapatkan biji kopi matang yang siap dijadikan bubuk kopi.

“Terakhir, kopi yang sudah digoreng, dicampur dengan kopi lain hasil pengopenan dan diselep (dihaluskan) secara bersama-sama,” ungkap bapak tiga anak ini.

Hasil olahan biji kopi yang sudah menjadi bubuk, barulah direbus atau dalam sebutannya dikothok, karena direbus dalam sebuah panci khas dengan sebutan kothokan. Dengan takaran normal satu banding dua, satu sendok makan bubuk kopi dan duan sendok gula pasir. Sedangkan yang menginginkan rasa pahit, cukup dengan satu banding satu.

Adonan kopi yang sudah mendidih dan mengental, sudah siap tersaji ke dalam cangkir.

Dalam sehari, lanjut Yatno, puluhan orang datang ke warung itu. “Wah, ya gak sampai ngitung yang kesini. Kalau pagi, lebih 50 orang kesini, baik tua maupun muda. Yang jelas, empat kilo (Kg) kopi habis dalam dua hari,” imbuh bapak dari Heri prasetyo, sulungnya.

Banyak pelanggan yang ke tempatnya, mereka para petani, montir bengkel, pekerja bangunan dan lainnya. Dia pun merasa bangga, bisa menyekolahkan dua anaknya hingga lulus SMA dan anak bungsunya yang masih duduk dibangku SMA.

 

Penulis : Ngatono

Jurnalis dan Penikmat Kopi