
BLORA – Santri di Blora telah menorehkan banyak catatan emas untuk Blora dan Indonesia. Pencapaian ini merupakan bukti nyata prestasi santri yang kadang hilang ditelan jaman. Seiring berjalannya waktu, semaik banyak muncul tokoh-tokoh santri muda yang menunjukkan berbagai prestasinya. Berikut ini 4 tokoh santri Blora lintas jaman yang berhasil dihimpun Bloranews.com.
- Mukti Ali dari Cepu (Menteri Agama RI Kabinet Pembangunan III)
Menteri Mukti Ali lahir di Balun Sudagaran, sebuah desa kecil di kecamatan Cepu pada tanggal 2 Agustus 1923. Ketika masih anak-anak, Menteri Mukti Ali bernama Boedjono.
Latar belakang pendidikan Menteri Mukti Ali didasarkan pada pendidikan pesantren. Kedua orang tua Menteri Mukti Ali merupakan anggota jama’ah Tarekat Qadiriyah. Dimasa remajanya, Menteri Mukti Ali belajar di Pesantren Gang III Cepu di bawah asuhan KH. Usman.
Kepada generasi hari ini Menteri Mukti Ali mewariskan sejumlah karya diantaranya Pengantar Ilmu Perbandingan Agama, Pemikiran Keagamaan di Dunia Islam, Masalah-masalah Keagamaan Dewasa Ini, Mengenal Muslim Bilali dan Muhajir di Amerika serta buku Agama dan Pembangunan di Indonesia.
- KH Maghfur Usman dari Cepu (Akademisi dan Rois Syuriah PBNU)
Kyai Maghfur Usman lahir di Cepu tanggal 11 Januari 1944. Melanjutkan perjuangan ayahandanya, KH. Usman dengan mengkaji ilmu-ilmu keislaman secara mendalam.
Menyelesaikan program sarjananya di Fakultas Syariah Universitas Islam Madinah, dilanjutkan dengan menyelesaikan program Magister dan Doktoralnya di negeri yang sama. Gelar Magister Kyai Maghfur diperoleh dari Fakultas Syariah Dirosat Islamiyah Universitas King Abdul Aziz Arab Saudi, sedangkan gelar Doktornya diperoleh dari Fakultas Syariah Dirosat Islamiyah Universitas Ummul Quro Makkah.
Kyai Maghfur pernah dipercaya mengajar di sejumlah universitas ternama di asia tenggara. Pada kepengurusan PBNU periode 2004-2009 beliau termasuk dalam jajaran Rois Syuriah, sebuah jabatan yang sangat penting di jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
- Kyai Ma’shum Fathoni (Rois Syuriah PCNU Blora)
Mbah Ma’shum, demikian sapaan akrab KH. Muhammad Ma’shum Fathoni Bogorejo. Sejak awal Mbah Ma’shum merupakan santri di pondok pesantren yang dikelaola ayahnya sendiri. Setelah menyelesaikan proses belajar ilmu agama dasar di MI Bogorejo, Mbah Ma’shum melanjutkan proses belajar di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Ghozaliyah Syafi’iyyah Karangmangu-Sarang-Rembang. Sepulang dari menimba ilmu di Rembang, Mbah Ma’shum dipercaya menjabat sebagai A’wan Syuriyah PCNU Kabupaten Blora. Pada Konfercab NU Blora tahun 2012, Mbah Ma’shum menduduki jabatan paling penting sebagai Rois Syuriah NU Blora untuk masa khidmat 2012-2017.
- Dalhar Muhammadun (Aktivis LPAW, Penulis buku “Tanah Berdarah di Bumi Merdeka”)
Kang Madun, demikian banyak aktivis muda memanggilnya. Sebagai salah satu tokoh penggiat sejarah Blora, Kang Madun pernah menulis satu-satunya karya ilmiah tentang penumpasan PKI di Blora. Hingga kini, buku Tanah Berdarah di Bumi Merdeka merupakan satu-satunya rekaman tertulis tentang tragedi memilukan tersebut di Blora [.]
Editor : Sahal Mamur
Foto : Tim Grafis Bloranews
*Dari berbagai sumber.