FPTI BLORA : TAKLUKAN PUNCAK PENCU DENGAN ROCK CLIMBING

fpti blora di pencu
Saat berlatih

Gandu ( 16/03/2016 ) Panjat Tebing ( Rock Climbing ) merupakan salah satu olah raga ekstrim di tanah air. Untuk melakukannya, dibutuhkan stamina yang prima dan kesiapan mental yang cukup. Olahraga yang dilakukan pada medan dengan elevasi 45 derajat atau lebih ini, memerlukan persiapan yang matang. Sedikit kesalahan akan sangat berresiko, sehingga pendampingan dari pemanjat professional sangat penting bagi latihan para pemanjat pemula.

Di Blora terdapat komunitas pemanjat tebing yang telah lama malang – melintang menaklukkan puncak – puncak yang menjulang, komunitas ini bernama Federasi Panjat Tebing Indonesia ( FPTI ) Kabupaten Blora. Anggota FPTI Blora tidak hanya para pemanjat – pemanjat professional, melainkan juga para muda yang baru beberapa tahun menekuni dunia panjat tebing.

Puncak pencu bogorejo
Puncak Pencu sebagai sarana latihan panjat tebing

 

Prasetyo ( 24 ) merupakan salah satu anggota FPTI Blora. Beberapa waktu yang lalu, Prasetyo dan kawan – kawan pemanjat muda lainnya  menaklukkan Puncak Pencu dengan cara memanjat di tebing curam di lereng sebelah selatan puncak tersebut. Sekalipun Puncak Pencu telah banyak dikunjungi oleh wisatawan, tetapi menaklukan Puncak Pencu dengan memanjat tebing-nya adalah sesuatu yang baru. Sebelumnya Prasetyo dan kawan – kawan telah terlebih dahulu menaklukkan Puncak Baret di perbatasan Blora – Rembang dengan cara yang sama, panjat tebing.

Puncak Pencu terletak di desa Gandu Kecamatan Bogorejo. Sejak lama Puncak ini menjadi destinasi banyak wisatawan, dari kecamatan lain di Kabupaten Blora maupun wisatawan dari luar kota. Panorama Matahari terbit dan tenggelam merupakan momen yang paling diburu oleh wisatawan. Beberapa media nasional bahkan pernah membuat liputan khusus untuk menceritakan keindahan terbitnya matahari dari puncak pencu.

fpti blora di pencu
Pemeriksaan medan panjat tebing

 

Menaklukkan Puncak Pencu dengan cara panjat tebing dimulai dengan mempersiapkan mental terlebih dahulu, saling memotivasi di antara pemanjat merupakan salah satu cara mempersiapkan mental sebelum penaklukkan dimulai. Dilanjutkan dengan memeriksa kondisi alat panjat tebing yang akan digunakan untuk menaklukkan Puncak Pencu. Bagi seorang pemanjat, kelengkapan alat – alat yang akan digunakan menjadi indikator kesiapan memanjat.

Memulai penaklukan Puncak Pencu diawali dengan perjalanan selama setengah jam menuju lokasi pemanjatan. Dilanjutkan dengan memasang alat – alat panjat tebing berupa Carabiners, Seat Harnes dan alat – alat lain yang dibutuhkan. Mengingat ini adalah penaklukan pertama Puncak Pencu secara panjat tebing, jadi semak – semak berduri masih lebat menutupi dinding tebing yang dipanjat. Selain itu, bahaya berupa serangan ular dan monyet menjadi kekhawatiran tersendiri.

FPTI Blora berlatih di puncak pencu
Krisbiantoro saat membuka Jalur Panjat

 

Untuk sampai di Puncak Pencu dibutuhkan waktu tiga setengah jam pemanjatan. Tentu saja untuk mencapai puncak dibutuhkan perjuangan ekstra keras dan metal baja. Catur Widodo ( 18 ) anggota FPTI ini merasa puas setelah menaklukkan Puncak Pencu dengan cara panjat tebing. “ Puncak ini baru pertama dipanjat jadi belum ada anchor-nya ( pasak ). Dan lagi tebing ini merupakan batu karang yang tajam, butuh perjuangan keras untuk sampai di puncak ini “ ujar juara Lead Youth ( Sebuah Kompetisi Panjat Tebing ) di yogya tahun 2015 ini.

Krisbiantoro ( 18 ) peraih medali perak dalam Kejuaraan Panjat Tebing Provinsi Jawa Tengah tahun 2015 merasa bangga setelah sampai di Puncak Pencu. “ Mental dan fisik harus prima, dan kondisi alat harus maksimal. Sampai di Puncak ini rasanya puas banget, sesekali harus coba panjat di tebing alam, jangan Cuma di Wall ( Wahana Panjat dinding ). Panjat di alam itu lebih ekstrim, otot dan otak bekerja semua “ ujarnya puas.

Puncak p[encu sebagai latihan di puncak pencu
Catur widodo sedang memanjat

Sayangnya, di Puncak Pencu berserakan sampah – sampah sisa para wisatawan dan  pendaki. Untuk menjaga keindahan Puncak Pencu, sebaiknya para pengunjung membawa kembali sisa – sisa sampah yang ada. Selain untuk menjaga keindahan, membawa kembali sampah atau bungkus makanan merupakan wujud cinta kita terhadap kelestarian alam Blora.

Reporter          : Khoirunniam

Fotografer        : M. Sholeh