
Randublatung (25.05.2016) Embung Keruk Randublatung merupakan salah satu penampungan air buatan di kabupaten Blora disamping waduk Greneng di Tunjungan dan waduk Tempuran di Blora utara. Embung Keruk Randublatung menjadi sandaran air pertanian untuk sekitar 22 Hektar lahan pertanian di Kecamatan Randublatung dan sekitarnya.
Embung Keruk terletak di dukuh Keruk Kelurahan Randublatung, sekitar tiga kilometer dari kantor kecamatan Randublatung. Luas Embung Keruk adalah sekitar delapan hektar, direncanakan kedepan akan diperluas sampai 22 hektar dan mencukupi kebutuhan air 250 hektar lahan pertanian.
Tujun pembangunan Embung Keruk Randublatung selain untuk mencukupi kebutuhan air pertanian antara lain sebagai tempat konservasi lingkungan, tempat latihan olahraga air, khususnya dayung dan obyek wisata di daerah Blora selatan.
Memancing merupakan salah satu kegiatan menarik di Embung Keruk, disamping itu para pengunjung embung keruk juga dapat mengarungi bagian tengah embung dengan menggunakan sepeda air yang tersedia. Panorama alam di sekitar Embung keruk pun sangat indah, para pecinta aktivitas fotografi akan sangat disayangkan jika melewatkannya.
Embung keruk pertama dibangun dengan kerjasama warga dukuh keruk pada tahun 2005. Pembangunan pertama ini menggunakan biaya dari World Bank, namum pembangunan dilakukan dengan alat – alat sederhana dari masyarakat dan tidak menggunakan perencanaan teknis dan hidrolis yang memadai.
Akibatnya, pada tahun 2006 salah satu sisi tanggul Embung Keruk pun runtuh karena tekanan hidrolis. Hal ini disebabkan karena curah hujan pada musim penghujan tahun 2006 di blora selatan sangat tinggi sehingga terjadi peningkatan volume air di Embung Keruk, sehingga beberapa bagian tanggul tidak mampu menahan air yang ada dan menyebabkan keruntuhan.
Dengan gerak cepat pemerintah kabupaten Blora mengirimkan bantuan berupa Dozer untuk menimbun beberapa bagian tanggul Embung Keruk yang jebol dengan menggunakan tanah.
Pada tahun 2009, masyarakat melakukan renovsi secara swadaya untuk memperbaiki beberapa sisi tanggul, baru pada tahun 2012 pemerintah kabupaten Blora melakukan pengerukan dan pembangunan Embung Keruk. Satu tahun kemudian dilakukan kajian untuk memantapkan struktur tanggul Embung Keruk. Kajian ini dilakukan oleh LPPM – ITB yang dipimpin oleh Ir. Oemar Handoyo M.Sn, seorang akademisi dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung.
Hasil kajian tersebut antara lain adalah evaluasi struktur bangunan Embung Keruk, usulan penguatan Dam serta sistem irigasi pertanian. Saatu ini embung keruk menjadi cadangan penmpungan air buatan terbesar dan obyek wisata favorit di kawasan Blora selatan.
Sumber : laporan penelitian LPPM ITB pada pendampingan masyarakat Randublatung.
Editor : M. Eko H.
Foto : Az Zulfa