DIDUGA FOSIL GAJAH PURBA, SEBAGIAN FRAGMEN DIAMANKAN DI RUMAH ARTEFAK

Temuan fosil diduga tulang Gajah Purba (Elephas hysudrindicus) di aliran sungai wilayah Desa Gondang Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora
Temuan fosil diduga tulang Gajah Purba (Elephas hysudrindicus) di aliran sungai wilayah Desa Gondang Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora

Ngawen- Sejumlah fragmen diduga fosil Gajah Purba (Elephas hysudrindicus) ditemukan di daerah aliran sungai (DAS) wilayah Desa Gondang Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora. Dugaan tersebut dikuatkan dengan ditemukannya fosil gigi .

 

Temuan fosil diduga tulang Gajah Purba (Elephas hysudrindicus) di aliran sungai wilayah Desa Gondang Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora
Temuan fosil diduga tulang Gajah Purba (Elephas hysudrindicus) di aliran sungai wilayah Desa Gondang Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora

 

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Blora, Slamet Pamudji melalui Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan, Eka Wahyu Hidayat menduga kuat fosil tersebut merupakan fosil Gajah Purba.

“Identifikasi awal, diduga Gajah Purba dari identifikasi gigi. Ada banyak fragmen yang berhasil kita amankan, selanjutnya akan kita identifikasi di Rumah Artefak,” kata Eka, Selasa (03/12).

Temuan fosil tersebut bermula dari laporan warga setempat dan ditindaklanjuti oleh dinas terkait dengan menugaskan tim untuk terjun ke lokasi. Temuan ini merupakan temuan pertama fosil Gajah Purba di wilayah Kecamatan Ngawen.

Sebelumnya, fosil Gajah Purba dengan kondisi yang nyaris utuh ditemukan di wilayah Dusun Sunggun Desa Medalem Kecamatan Kradenan Kabupaten Blora. Dengan adanya temuan ini, menguatkan fakta kekayaan peninggalan arkeologi di Blora.

Sebagai informasi, sejumlah fragmen yang ditemukan warga, termasuk fragmen gigi, disimpan oleh warga sendiri. Meski sebenarnya fosil tersebut akan lebih terrawat jika disimpan di Rumah Artefak. Eka mengatakan, hal ini tidak masalah karena masyarakat sudah menunjukkan kepedulian dengan melapor saat menemukan.

Sementara, tim lapangan Dinporabudpar Blora, Lukman Wijayanto mengatakan, setelah ini pihaknya akan segera menghubungi Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran untuk tindakan lebih lanjut.

“Lokasinya di kedung (cekungan) sungai. Ini tantangan kita, sehingga kita akan segera berkonsultasi dengan BPSMP Sangiran. Soalnya, ini memasuki musim hujan, jadi jika ditunda pasti akan lebih sulit. Belum lagi, potensi penggalian liar yang dikhawatirkan menjarah fosil-fosil yang ada,” katanya. (jyk)