Di balik gemerlapnya pembangunan di beberapa desa di Blora, tersembunyi luka menganga ketimpangan dana hibah untuk desa. Hibah Bantuan keuangan Desa seharusnya menjadi pendorong kemajuan merata, justru menjelma menjadi alat pembeda antara desa kaya dan desa miskin.
Mirisnya, desa-desa “kaya” ini bak oase di tengah gurun. Menerima dana hibah hingga setengah miliar rupiah, mereka bagaikan anak emas yang dimanjakan pembangunan. Infrastruktur megah berdiri kokoh, program pemberdayaan masyarakat berjalan lancar, dan kegiatan sosial semarak menghiasi hari-hari mereka.
Di sisi lain, desa-desa “miskin” bagai terlupakan. Jalanan tanah liat menjadi kubangan lumpur saat musim hujan, fasilitas umum seadanya, dan program penunjang kesejahteraan tak kunjung terlihat. Mimpi mereka tentang kemajuan bagai fatamorgana, terbentang di depan mata namun tak tergapai.
Bukan Sekedar Angka, Tapi Luka di Hati Rakyat
Ketimpangan ini bukan hanya soal angka-angka dalam laporan keuangan. Di baliknya, terukir luka di hati rakyat. Rasa iri, kecewa, dan ketidakpercayaan pada pemerintah menggerogoti rasa persatuan. Pertanyaan menggema, “Mengapa kami selalu tertinggal?”, “Apakah kami tidak berhak mendapatkan kemajuan yang sama?”.
Dampak ketimpangan ini tak hanya sebatas infrastruktur dan program. Luka ini merambat ke berbagai sendi kehidupan.
Pembangunan yang Tak Merata: Desa-desa kaya melaju pesat, sementara desa miskin tertinggal jauh. Kesenjangan ini memicu kecemburuan sosial dan menghambat kemajuan bersama.
Ketidakpuasan dan Ketidakpercayaan Masyarakat: Rasa tak adil memicu kekecewaan dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Hal ini dapat menghambat partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan menciptakan iklim yang tidak kondusif.
Potensi Konflik: Ketimpangan ini bagaikan bom waktu yang siap meledak. Ketidakpuasan yang menumpuk dapat berujung pada konflik antar desa, merusak harmoni sosial, dan menghambat stabilitas wilayah.
Menuju Blora yang Adil dan Merata: Mimpi yang Harus Diwujudkan
Membangun Blora yang adil dan merata bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Dana hibah harus menjadi alat pemersatu, bukan pembeda.
Langkah Nyata Menuju Keadilan:
Transparansi dan Akuntabilitas: Pemerintah harus membuka diri dan menjelaskan secara gamblang kriteria penyaluran dana hibah. Masyarakat berhak mengetahui dasar pertimbangan dan mengawasi prosesnya.
Audit Independen: Libatkan pihak independen untuk mengaudit proses penyaluran dan penggunaan dana hibah. Hal ini penting untuk memastikan tidak ada kecurangan atau penyelewengan dana.
Pemberdayaan Masyarakat: Libatkan masyarakat dalam proses perencanaan dan pengawasan penggunaan dana hibah. Dengarkan suara mereka dan berikan ruang bagi mereka untuk menentukan prioritas pembangunan di desa mereka.
Pemerataan Dana: Alokasikan dana hibah secara adil dan proporsional, dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti tingkat kemiskinan, kebutuhan infrastruktur, dan jumlah penduduk.
Penguatan Regulasi: Buat regulasi yang jelas dan tegas tentang penyaluran dana hibah, serta perkuat mekanisme penegakan hukum untuk mencegah penyimpangan.
Bersama Menuju Masa Depan yang Cerah
Membangun Blora yang adil dan merata bukan tugas pemerintah semata. Masyarakat juga harus bahu-membahu, mengawasi, dan berperan aktif dalam prosesnya.
Mari kita satukan tekad, bergandengan tangan, dan wujudkan Blora yang adil, merata, dan sejahtera untuk semua. Masa depan yang cerah bukan lagi mimpi, tapi kenyataan yang bisa diraih dengan kerja sama dan komitmen bersama.
Ingat: Keadilan dan pemerataan adalah kunci kemajuan Blora! Bersama, kita ciptakan Blora yang adil dan merata untuk semua!
Tentang Penulis : Jaryoko, Jurnalis Bloranews sekaligus pemerhati sosial ekonomi masyarakat Desa.