Blora – Kendati harganya yang jauh lebih mahal dibanding produk batik dari kota lain, Batik Blora tak sepi peminat. Perkembangan Batik Blora yang cukup pesat ini, tak lepas dari campur tangan pemerintah yang mendukung bisnis kerajinan lokal ini.

Dilansir jawapos.com, pemiliki galeri Batik Blora di kawasan Cepu, Sri Nyayati mengaku konsumen Batik Blora dewasa ini banyak yang berasal dari luar kota.
“Banyak konsumen dari Jakarta. Kebanyakan memesan yang berwarna merah atau hitam. Saat ini, kita juga mengembangkan warna lain,” terang Sri, Senin (12/02).
Batik Blora yang diproduksi di Cepu memiliki motif dan corak yang beragam. Corak yang banyak diminati adalah pola-pola bertema perminyakan, Cepu dikenal sebagai Kota Minyak di Jawa Tengah.
Hal senada diungkapkan pengrajin Batik Blora Hurip Indiani. Hurip mengungkapkan, selama ini produksi batiknya tetap berjalan dengan baik meski harga yang belum bisa sama dengan kota penghasil lainnya. Namun, saat ini selalu menerima pesanan dari luar kota.
Terkait harga, batik blora masih dinilai mahal jika dibanding batik produk dari kota lain, seperti Jogjakarta dan Pekalongan. Di dua kota ini, dengan uang Rp 30 ribu sudah bisa mendapatkan baju batik.
“Meski mahal, Batik Blora terus berkembang pesat. Itu tidak terlepas dari dukungan kebijakan pemakaian seragam batik di lingkungan pemkab, instansi, dan sekolah,” komentar pemerhati Batik Blora Waras Raharjo.
Penyunting : Niam Jamil